Minggu, 20 September 2015

Perubahan Bermula dari Sebuah Do’a


Hai Sobat salingdoa, apa kabar? Mudah-mudahan  sehat selalu dan semoga kita senantiasa selalu dalam Lindungan dan Maghfirah-Nya. Amiin
Sobat salingdoa udah tau nggak, ternyata Allah SWT tidak semata-mata mengabulkan do'a kita begitu saja, tetapi Allah ingin melihat dulu usaha kita dalam meraih ijabah doa. Berikut ini beberapa usaha yang bisa kita lakukan untuk meraih ijabah do'a, yaitu:
1.    Niat atau Kemauan Kuat (Desire)
Segala sesuatu tergerak dari niat dan kekuatan niat akan menggerakan setiap pikiran serta tindakan kita ke arah tujuan. Semakin niat kita tulus dan ikhlas, semakin cepat juga kita dalam mengarahkan pikiran dan tindakan kita pada tujuan yang ingin kita capai.
2.    Meminta (Ask)
Allah SWT tidak akan memberi apabila kita tidak meminta, akan tetapi apabila kita selalu meminta kepada-Nya, maka Allah akan memberi, sebagaimana janji-Nya “Ud unii astajib lakum” (Memohonlah maka akan Aku kabulkan).
3.    Yakin (Believe)
Semakin kita yakin bahwa apa yang telah kita minta kepada Allah SWT dalam do’a pasti dikabulkan, maka semakin cepat kinerja do’a (Ijabah do'a)tersebut dapat kita rasakan.
4.    Bersyukur (Gratitude)
Semakin kita bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya, maka Allah SWT akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita. Tetapi sebaliknya, apabila kita tidak pandai bersyukur, niscaya Allah akan menurunkan Azab-Nya.
5.    Visualisasi (Visualization)
Kita harus mengambarkan dalam pikiran bawah sadar kita bahwa seolah-olah nikmat karunia yang kita mohonkan kepada Allah SWT tersebut telah diberikan dan telah kita rasakan saat itu juga, hal ini bertujuan  untuk mengimplementasikan perintah berprasangka baik (husnudzan) kepada Allah SWT.
6.    Menerima (Receive)
Kita harus menerima atas apa yang telah Allah berikan kepada kita, karena pada hakikatnya itulah yang terbaik untuk kita. Karena pada hakikatnya Allah tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, melainkan Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan.

Yah, sobat salingdoa, itulah berapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencapai ijabah doa. setiap apa yang kita minta kepada-Nya, dapat segera di Ijabah oleh-Nya dengan ijabah yang terbaik (nasib yang terbaik). Amiin

Kamis, 17 September 2015

Alur Konsep Ilahi Oleh Fahd Al Hudzaif



Dalam menjalankan kuasa-Nya sebagai sang Khaliq, Allah SWT memiliki 2 aturan dalam menentukan bagaimana proses dan hasil akhir terhadap pencapaian usaha yang telah dilakukan oleh manusia. Dua aturan itu adalah Sunnatullah dan Qudratullah. Sunnatullah merupakan hukum Allah yang berkaitan erat dengan sebab-akibat, atau secara syariat adanya perantara (asbab). Sehingga pada aturan ini tahapan dan proses merupakan bagian yang tak terpisahkan untuk mendapatkan sebuah hasil. Sedangkan Qudratullah merupakan aturan yang hanya bergantung pada Kehendak dan Kuasa Allah semata.

Rabu, 21 Januari 2015

Ayo Berdagang Kembali


Sekarang kita bisa kembali meraih kejayaan di perdagangan sebagaimana generasi terbaik dahulu yang berhijrah bersama Rasulullah Ya kita harus mau mulai bersungguh-sungguh belajar berdagang.
 
KEKUATAN perdagangan umat ini di masa lalu antara lain terungkap dalam Seminar Numismatika Bank Indonesia 27 Oktober 2009 yang membahas sejarah mata uang Indonesia. Sekitar satu setengah abad setelah Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) merajalela di Nusantara ini, akhirnya memperoleh persetujuan dari Kerajaan Mataram untuk mencetak uangnya sendiri.

Uang itu kemudian diberi nama Derham Djawi dan di kedua sisinya bertuliskan huruf Arab. Inilah menariknya, mengapa harus diberi nama Derham dan mengapa harus ditulis dengan huruf Arab?
Pada koin Derham Djawi edisi tahun 1765 misalnya, satu sisinya bertuliskan Ila Jariyat Jawa Al Kabir sedang sisi lainnya bertuliskan Derham Min Kompani Welandawi. Kedua teks ini intinya menjelaskan bahwa uang Derham tersebut adalah dari perusahaan Belanda untuk Pulau Jawa Besar.
Karena ini kesepakatan VOC dan Kerajaan Mataram, mengapa uang tersebut tidak berbahasa Belanda dengan huruf latin atau dalam bahasa Jawa dengan huruf Jawa? Uang adalah bahasa perdagangan pada jamannya. Artinya yang dominan di dunia perdagangan saat itu adalah para pedagang muslim yang berbahasa Arab.

Kekuatan perdagangan umat Islam saat itu juga sejalan dengan sejarah bahwa Agama ini lahir pertama kalinya di lingkungan para pedagang tangguh, yang kemudian terbukti memudahkan mereka berhijrah dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia.
Yang anomali adalah umat Islam yang hidup di jaman ini, kita masih mayoritas di negeri ini – tetapi dalam dunia perdagangan kita terperdaya oleh kaum minoritas. Mayoritas kita terbuai dengan comfort zone kita masing-masing, sehingga menimbulkan tragedy of the common bagi umat secara keseluruhan.
Lho apa salahnya perdagangan dikuasai oleh orang lain ? Bila mereka yang bisa mengelola perdagangan itu dengan baik dan memenuhi kebutuhan kita so what?
Ketika menjadi Muhtasib atau pengawas pasar, Umar bin Khattab Radliallahu ‘Anhu sering teriak-teriak : “…tidak boleh berdagang di pasar orang yang tidak tahu syariat jual beli…”. Karena dengan ketidak tahuannya akan membawanya ke transaksi ribawi dan hal-hal lain yang dilarang tanpa disadarinya.

Dan inilah exactly yang terjadi di perdagangan kita sekarang. Karena yang menguasai perdagangan tidak memahami syariat, riba dan kedhaliman terjadi secara massif di pasar – tanpa banyak yang menyadarinya.
Kalau Anda panen sayur di kebun Anda sendiri misalnya, bisakah Anda begitu saja bawa ke pasar dan berjualan di sana?
Kemungkinan besarnya Anda akan berhadapan dengan calo atau bahkan premanisme sebelum barang Anda bisa masuk pasar.
Atau Anda mungkin sudah merasa beruntung setelah bersusah payah akhirnya sayuran Anda bisa masuk jaringan super atau hyper market raksasa, tanpa Anda sadari ternyata Anda justru memodali para raksasa dengan dagangan Anda yang dibayarnya kapan-kapan oleh mereka.

Konon keuntungan terbesar para raksasa retail bukan hanya dari margin jual beli, tetapi justru dari memutar cash yang diterimanya dari menjual barang dagangan orang lain secara tunai – tetapi kemudian membayar ke si pemilik barangnya sampai sekian waktu kemudian. Itulah sebabnya mereka berusaha menahan uang Anda selama mungkin kalau bisa.

Salah siapa ini? Ya salah kita semua yang membiarkan ini terjadi. Salah kita yang tidak bertebaran di muka bumi untuk mencari karuniaNya sambil mengingatNya banyak-banyak (QS 62:10). Bila yang bertebaran di muka bumi adalah orang-orang yang tidak mengenalNya apalagi mengingatNya – maka mereka bisa menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan materinya.
Lantas bagaimana sekarang kita bisa kembali meraih kejayaan di perdagangan sebagaimana generasi terbaik dahulu yang berhijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? Ya kita harus mau mulai bersungguh-sungguh belajar berdagang.

Banyak diantara kita yang sudah pandai memperdagangkan produk orang lain (tempatnya bekerja) tetapi gamang untuk mulai berdagang dengan produknya sendiri. Jadi sebenarnya sudah sangat banyak diantara kita para pedagang tangguh, hanya belum menyadari potensinya saja.
Maka dari sinilah kita bisa mulai, kemampuan berdagang yang sudah inherent ada dalam diri kita tinggal diasah dan dikeluarkan sedikit-demi sedikit. IsyaAllah tidak akan lama waktunya bagi umat ini untuk melahirkan Abdurrahman bin ‘Auf – Abdurrahman bin ‘Auf jaman ini.
Masih sulit membayangkannya? Tidak usah terlalu banyak dipikirkan atau dibayangkan, mulailah melakukan tiga hal ini – maka insyaAllah Anda sudah akan bisa menjadi pedagang tanpa Anda sadari.

Pertama, identifikasi produk berupa barang atau jasa apa yang Anda punya passion padanya. Bisa dari lingkungan pekerjaan Anda sekarang, dari hobi Anda, dari kebutuhan Anda, dari masalah yang Anda hadapi – dari mana saja yang bisa menginspirasi Anda.

Kedua, maksimalkan nilai atau manfaat dari produk yang sudah Anda temukan tersebut. Misalnya Anda punya passion terhadap kedelai, maka sedapat mungkin ya jangan hanya jual beli kedelai. Tetapi bagaimana menjadikannya tempe, tahu, kecap dan perbgagai produk pengembangannya.

Ketiga, promosikan atau perkenalkan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Tidak semua orang akan merespon positif produk Anda, itupun tidak masalah. Bahkan bila hanya ada 1 orang tertarik terhadap produk Anda dari 100 orang yang Anda tawari, maka bersyukurlah – karena Anda telah menemukan niche market Anda.

Tinggal kemudian mencari padanan dari 1 orang yang sudah tertarik tersebut dengan system pencarian yang terstruktur, systematis dan massif. Di Indonesia saja ada 2.5 juta orang padanan dari satu orang yang Anda temukan tersebut (1/100 dari 250 juta penduduk).

Inilah peluang pedagang di era teknologi, yang sangat-sangat mungkin bagi Anda untuk tetap bisa menggarap secara efektif segmen pasar yang sangat sempit sekalipun. Maka perkembangan teknologi informasi saat ini mestinya bisa menjadi momentum untuk kebangkitan perdagangan umat di jaman ini.

Bila Anda punya passion di bidang hasil bumi, maka Anda-pun bisa bersinergi dengan kami di Natural Resources Indonesia yang mempunya misi Identify, Maximize and Promote kekayaan hasil bumi yang terbarukan dari negeri ini. InsyaAllah.*

Penulis Direktur Gerai Dinar
Sumber: http://www.hidayatullah.com/kolom/ilahiyah-finance/read/2015/01/08/36364/ayo-berdagang-kembali.html#.VMBC9CzRtdc

Ketika Tentara Korsel Berbondong-Bondong Kembali ke Islam


Bukan rahasia umum lagi jika Korea Selatan merupakan salah satu negara di Asia dengan tingkat penginjilan yang paling aktif di dunia. Namun hidayah memang dapat datang kapan saja dan di mana saja. Dan itu terjadi ketika puluhan tentara Negeri Ginseng tersebut pulang dari medan tugas di Irak.
Tentara Korsel diketahui tergabung dengan ‘Unit Zaitun’ dan ditempatkan di Irbil, Irak bagian utara. Di sini mereka berinteraksi dengan warga Irak yang mayoritas memeluk Islam.

Dalam interaksi ini mereka melihat dan mengamati bagaimana Islam bisa menjadi pedoman hidup yang benar-benar menyentuh hati dan sesuai dengan fitrah manusia.  Maka mereka pun mulai mempelajari Islam dengan membaca kitab suci al-Qur’an dan banyak bertanya dengan para pemuka agama Islam setempat.

 Para tentara Korsel ini mulai tersadar dan kembali ke fitrah manusia, yaitu Islam. Letnan Son Hyeon-ju sendiri mengaku kembali ke Islam pada tahun 2004 silam. “Saya menjadi Muslim karena saya bisa merasakan jika Islam lebih humanis dan damai,” ujar Letnan Son Hyeon-ju menyebut angka 37 tentara yang menjadi mualaf dikutip dari The Chosunilbo (15/1).
Son Hyeon-jun, yang merupakan anggota Pasukan Elit Brigade ke-11, serta teman-temannya itu telah bertugas di Ibril, Irak bagian utara. Di sanalah mereka mulai mengenal Islam.

 Dan ketika kembali ke negaranya, bertepatan dengan hari Jumat, 37 tentara Korea Selatan itu bersyahadat di Masjid Hannam-dong, Seoul. Sebelum mengucap Syahadat, mereka berwudu. Setelah itu bersyahadat dengan dibimbing imam masjid dan disaksikan jamaah salat Jumat.
Saat membaca Syahadat, para tentara itu berdiri sejajar dalam garis lurus, untuk melambangkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah. Mereka sungguh lancar mengucap Syahadat dalam bahasa Arab.(rz/The Chosunilbo)

Sumber :  www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/ketika-tentara-korsel-berbondong-bondong-kembali-ke-islam.htm#.VMA_hizRtdc

Selasa, 20 Januari 2015

Mush’ab bin Umair, Teladan Bagi Para Pemuda Islam


Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,

رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ 

“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”
Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.

Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.
Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).
Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.
Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.

Menyambut Hidayah Islam

Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain. Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.

Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.

Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.

Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat

Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya. Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.
Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).

Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).

Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi. Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya. Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya. Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.

Peranan Mush’ab Dalam Islam

Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.

Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.
Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”
Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

Wafatnya 

Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata:
Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kudak dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab membaca ayat:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ 

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambal membaca ayat yang sama:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ 

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).
Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.

Setelah perang usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا 

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.
Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”
Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”
Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.

Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umair

Di masa kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu yang sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umair. Ia berkata, “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273). Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.

Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no.3897).

Penutup

Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan menjadikannya teladan bagi pemuda-pemuda Islam. Mush’ab telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah.

Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan dalam bersemangat menuntut ilmu, mengamlakannya, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.

Sumber:
Artikel : KisahMuslim.com
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Kemenag: Sudah Empat Tahun tidak Ada Pengangkatan Guru Agama


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amin Hedari mengakui saat ini Kementerian Agama sudah lama tidak melakukan pengangkatan tenaga pengajar pendidikan agama untuk sekolah-sekolah negeri. Terakhir kali, Kemenag melakukan pengangkatan sekitar empat tahun lalu.
Oleh sebab itu, ia menyebut banyak sekali saat ini di daerah-daerah yang kekurangan tenaga guru agama. “Sudah empat tahun tidak ada pengangkatan guru agama yang di bawah Kementerian Agama,” kata Amin kepada Republika Online, selasa (20/1).

Pihaknya kata Amin, sudah lama melaporkan mengenai kekuarangan tenaga guru agama ini agar ditindaklanjuti. Sebab, seiring bertambahnya waktu ia menyadari tenaga guru agama semakin berkurang karena selalu ada yang pensiun setiap tahun.
Amin memperkirakan, dari total guru agama yang ada di sekolah-sekolah negeri saat ini, hanya sekitar 10 persen guru agama yang berada di bawah Kemenag. Selebihnya guru agama berada di bawah pemerintah daerah serta di bawah Dinas Pendidikan.

Meski demikian, Amin mengapresiasi sekolah-sekolah negeri yang berinisiatif untuk merekrut guru-guru hononer untuk mengisi kekosongan tenaga guru agama. Hal ini disebut Amin sebagai salah satu solusi sementara sebelum dilakukan kembali perekrutan guru agama yang berada di bawah Kemenag.

“Kami juga akan  mengupayakan bagaimana supaya kebutuhan guru agama ini terpenuhi,” ucap Amin.

Namun, dalam upaya menambah tenaga guru agama ini kata Amin juga terhambat karena adanya moratorium pegawai yang juga berdampak kepada kesulitan bagi Kemenag untuk mengangkat pegawai.